Slide Show

  • Everyday I'm shufflin!
  • Break the physical and mental obstacles
  • Area Eksplorasi Kreatifitas dan Inovasi Anak Muda Indonesia
  • Teknik Fotografi Yang Membuat Kita Tampak Melayang
  • Dalam Nuansa Casual, Urban dan Maskulin

Thursday, August 11, 2011

#[Urban Spot] @america : The New Way To Experience America Through The High-Technology

(from : www.atamerica.or.id)

Guys, untuk dapat mempelajari kebudayaan asing, kita biasanya pergi mengunjungi Kedutaan Besar negara-negara asing yang ada di Jakarta. Tapi dengan desain bangunan Kedutaan Besar yang cenderung memiliki tembok tinggi, kokoh dan ditambah dengan tingkat keamanan yang berlapis-lapis. Membuat suasana Kedutaan Besar jadi terasa kaku dan kurang nyaman. Pastinya kurang menarik untuk menjadi tempat dalam mempelajari kebudayaan asing.

(Fasilitas @america yang Hi-Tech, from: The Jakarta Post)
Nah, mungkin belum banyak yang tahu kalau sekarang Kedutaan Besar Amerika Serikat memiliki Cultural Center yaitu @america di dalam sebuah mall (Pacific Place) di kawasan Sudirman. Yap, jauh dari kesan kaku karena ada di dalam mall. Sebaliknya @america ini didesain begitu friendly dan juga memiliki fasilitas yang serba Hi-Tech, malah di-claim sebagai the first high-technology Cultural Center of America in the worlds. Cool!:D

@america memang punya cara-cara yang lebih fun bagi kita untuk bisa lebih mengeksplorasi tentang Amerika Serikat. Mulai dari dunia pendidikan, teknologi, kebudayaan dan sejarah Amerika Serikat melalui e-guides, games dan quiz yang menarik. Selain itu juga biasanya diadakan diskusi mengenai topik tertentu yang menarik dan berbagai event lainnya sebagai sarana komunikasi antara Amerika dan Indonesia. Yang gak kalah seru, di @america kita bisa menggunakan fasilitas Google map secara lebih real melalui big screen. Apalagi disini juga ada lounge dengan free hot-spot yang bisa digunakan untuk gadget seperti laptop ataupun tablet pc. Bagi yang punya impian untuk sekolah atau sekedar travelling di AS, @america bisa jadi pusat informasi yang mumpuni.

(Google map melalui big screen, from : The Jakarta Post)
Jadi tunggu apalagi? @america yang tepatnya ada di lantai 3 Pacific Place ini dibuka untuk umum setiap hari dari jam 10.00 – 21.00 *for further info visit www.atamerica.or.id *, dan yang pasti Free! alias Gratisan ;). Nah, weekend emang pas banget nih hangout bareng teman di mall, tapi gak ada salahnya mampir ke @america. Weekend gak kalah seru, malah bisa menambah pengetahuan. J

 (sumber : The Jakarta Post, www.atamerica.or.id )

Monday, August 8, 2011

#Arts : [Shuffle Dance] “Everyday I’m Shufflin!”


(picture from : vitreousfluid.tumblr.com)

Berawal dari kota Melbourne, dengan keunikannya Shuffle dance mulai mendunia. Bahkan sekarang, muncul komunitas Shuffle dance di Indonesia. Shuffle dance adalah passion mereka (Shuffler/Rockers).

("LMFAO" from : electrowow.net)
Nah, kalau belum pernah melihat Shuffle dance itu seperti apa? Mungkin lo sering mendengar lagunya LMFAO-“Party Rock Anthem” yang lagi nge-Hits akhir-akhir ini? “Everyday I’m Shufflin….” Ya, itu sebagian liriknya yang diulang berkali-kali dan cukup nempel di otak. Lagu itu menggambarkan euphoria Shuffle dance di kalangan anak muda. Di Video Clipnya lo bakalan bisa melihat aksi para Shuflers/Rockers yang oke punya. J *Search Video Clip mereka di Youtube*

Sejarah singkatnya, Shuffle dance ini muncul pada tahun 80-an di komunitas rave dance underground kota Melbourne, Australia (atau dikenal sebagai Melbourne Shuffle). Lalu selama bertahun-tahun kepopulerannya semakin meluas ke negara-negara lainnya. Di Indonesia sendiri, belum ada informasi yang jelas kapan Shuffle dance mulai masuk ke Indonesia. Walaupun shuffle dance belum begitu populer di Indonesia. Tapi yang jelas sekarang sudah mulai muncul komunitas Shuffle dance, salah satunya adalah Indorockers (indorockers.com). Nah, kalau penasaran mau lihat Shufflers/rockers lokal melakukan aksinya coba search di Youtube.

( picture from :shuffle-guides.blogspot.com)
Sepintas Shuffle dance sebenarnya mirip-mirip dengan hip-hop dance. Cuma Shuffle dance itu lebih memusatkan gerakan-gerakan pada kaki, lebih tepatnya di bagian heel dan toe (tumit dan telapak kaki). *bener ga nih terjemahannya? :p* Ada juga yang menyebut kalau Shuffle dance ini gabungan dari Tap dance dan Traditional Ballet. Beberapa gerakan populernya dan juga menjadi basic movements adalah T-step dan Running man. Biasanya Shufflers/Rockers juga menggunakan berbagai aksesoris untuk menunjang perform mereka. Misalnya sepatu yang menggunakan tali yang menyala-nyala dan berbagai aksesoris glow-in-the dark lainnya.

(picture from: alibaba.com)









So guys, are you ready to Shufflin?? Turn the music on! :D

(Sumber:Wikipedia)

Monday, July 25, 2011

#Arts : [Film Pendek] The Next Big Thing, Comes From The Small Thing

(picture from : matjankampoeng.blogspot.com)


Absennya film-film Hollywood atau lebih tepatnya Blockbuster Movies di Bioskop-bioskop Indonesia beberapa bulan ini benar-benar mengecewakan para penonton setianya. Bagaimana dengan film-film lokal? Sepertinya sih masih dibayang-bayangi tema horror atau semi ‘esek-esek’. Kalaupun ada yang mengangkat tema religius, atau tema ‘serius’, ya jadi banyak yang ikut-ikutan buat film dengan tema yang sama. Tapi, apa ada yang pernah nonton/melihat film dokumenter, film indie atau film pendek? What do you say? Sebaiknya jangan meremehkan film pendek guys, karena sangat memungkinkan film ini menjadi media bangkitnya perfilman nasional J.

Secara teknis film pendek merupakan film-film yang memiliki durasi dibawah 50 menit (Derek Hill), walaupun kebanyakan hanya berdurasi 10-15 menit atau bahkan kurang dari 10 menit. Film ini sendiri mulai populer sejak dekade 50-an di Jerman dan Perancis, yang kemudian berkembang di Negara-negara Eropa. Untuk di Indonesia sendiri, film pendek muncul di kalangan pembuat film Indonesia setelah pendidikan sinematografi muncul di IKJ. Bahkan sampai diadakan Festival Film Mini tahunan mulai tahun 1974. Tapi kemudian eksistensinya menghilang karena kekurangan dana (filmpelajar.com oleh Edi Cahyono).

Film pendek ini sebenarnya juga bisa disebut film Indie, karena dalam pembuatannya membutuhkan budget yang lebih kecil dibanding film layar lebar. Bahkan karena keterbatasannya dana, para filmmaker harus benar-benar kreatif memaksimalkan apa yang mereka punya untuk menghasilkan karya yang ciamik dan luarrr biasa. Nah sama seperti musik Indie, film Indie juga jadi media dalam kebebasan ekspresi dalam berkarya. Itulah kenapa karyanya biasanya out of the box, gak main stream.

Tapi bukan berarti film pendek malah jadi kurang efektif sebagai media dalam menyampaikan pesan atau pandangan mengenai issue tertentu. Justru film pendek harus menjadi media yang lebih berani dalam menyampaikan pandangan-pandangan baru dengan pemanfaatan ide-ide kreatif dalam keterbatasan durasi yang pendek. Bagaimana supaya bisa menemukan ide-ide kreatif? Mengutip dari tulisan Dennis Adhiswara dalam majalah NylonGuys edisi Juli-Agustus 2011: “Film pendek adalah sarana untuk membuat kesalahan. Atau mungkin tepatnya: sarana berbuat ‘nakal’. Kenakalan-kenakalan kreatif inilah yang sebenarnya jadi cikal bakal semangat eksplorasi dan inovasi dalam berkarya.” Be bad is good :p.

Sayangnya nih guys, media promosi dan eksibisi untuk film pendek masih kurang mendapat dukungan. Karena low budget, promosi dilakukan sendiri sesuai dengan kemampuan filmmaker. Youtube adalah salah satu media promosi bagi para filmmaker untuk memamerkan karyanya secara gratis. Sama halnya dengan eksibisi. Untuk menonton film pendek biasanya tidak perlu membeli tiket dengan harga tertentu, berbeda dengan film layar lebar yang perlu membayar tiket untuk menonton di Bioskop. Eksibisi film pendek biasanya dilakukan pada event tertentu seperti pada festival film. Ironis karena ternyata banyak filmmaker dari Indonesia yang menjadi jawara dalam festival film yang diadakan di luar negeri, tapi film pendek justru menjadi sesuatu yang asing didalam negerinya sendiri. Ini tandanya filmmaker lokal punya potensi untuk bersaing secara global.


The next big thing, comes from the small thing. Untuk dapat membuat sebuah film ‘besar’ yang berkualitas dan juga berkontribusi terhadap kondisi perfilman nasional, diperlukan langkah-langkah kecil yang mantap. Salah satunya, ya..lewat film pendek. Tertarik? :) 


(sumber: www.filmpelajar.com ; Nylon Guys Indonesia)




Wednesday, July 20, 2011

#Music Review : My Local Heroes

     Kali ini gue mau nge-review koleksi-koleksi CD gue. Sebenernya banyak musisi luar negeri maupun lokal dari berbagai genre musik yang gue koleksi. Mulai dari RnB, soul, Acid jazz, funk jazz, electronic, trance, sampe berbagai genre pop *termasuk K-pop?* ;p, selalu ada di playlist gue. Nah musisi lokal Indonesia juga gak kalah keren. Mereka memiliki genre musik yang asik-asik dan juga unik. Dan ini beberapa diantaranya yang jadi favorit gue dan juga menjadi my local heroes. Yang menjadi pertimbangan gue untuk tertarik membeli albumnya adalah: pertama, genre musiknya yang bikin kuping betah. Kedua, musisi/band nya emang jagoan dalam genre musik masing-masing. Ketiga, biasanya genre musiknya out of the box. (bukan yang sering tampil di acara inbox *no offense). Keempat, branding image musisi/band yang kuat. Kelima, menghargai kerja keras mereka.



Endah N Rhesa :


- Genre : Ballads, Folks
- Album : Look What We’ve Done
- Must Listen : Monkey song, wish you were here, the king
- Suggested listening : when you need to relax, before   sleep










Adhitia Sofyan : 
- Genre : Ballads
- Album : Quiet Down
- Must Listen : Adelaide sky, memilihmu, blue sky collapse
Suggested listening : when you feel “galau”, in rainy weather, before sleep








Soulvibe : 
- Genre : funk jazz
- Album : Soulvibe, Antartika
- Must Listen : Arti hadirmu, biarlah, antartika, untuk sementara
Suggested listening : when you need to relax, mood booster, accompany while reading













Andezz :
- Genre : funk jazz, lounge
- Album : departure people, only you
- Must Listen : Pergi, why don’t just, shooting stars, musik ku, only you
- Suggested listening : just relax and chillin









Maliq & D’ Essentials :
- Genre : funk jazz
- Album : The beginning of a beautiful life
- Must Listen : Terlalu, beautiful life
- Suggested listening : mood booster, Accompany in the middle of traffic













EGRV :
- Genre : Electronic
- Album : Power on/off
- Must Listen : Headliners, I know that you are lookin’ over here
- Suggested listening : While work out, get on your bike, while driving, having private party










Barry Likumahuwa :
- Genre : funk jazz
- Album : Goodspell
- Must Listen : Mati saja, scholastica, saat kau milikku, aku & hadirmu
- Suggested listening : while driving, mood booster, when need time for relaxing

Wednesday, July 6, 2011

#Book Review : On my desk

Kali ini gue akan mereview sedikit beberapa buku koleksi di meja gue. Buku-buku ini telah mengubah pandangan gue mengenai beberapa hal, menginspirasi, menghibur dan menambah pengetahuan pastinya. Mudah-mudahan juga bisa menginspirasi lo semua. Happy reading. J


The mess on my desk *btw itu harusnya lemari posisinya berdiri,
tp gue jadiin meja serbaguna. Kreatif kan? :p

Your Job Is Not Your Career : Job dan Career adalah sesuatu yang berbeda. Dimana Career itu lebih mengenai passion, purpose dan value. Hmmm…. Guys, “Think less feel more” –Rene Suhardono- *Biar gak bingung mending langsung baca bukunya.





Untuk Indonesia Yang Kuat : Kelas menengah dengan perencanaan keuangan yang tepat akan menjadikan Indonesia yang lebih kuat. Tapi untuk menjadi kelas menengah yang kuat kita harus mampu mengelola keungan dengan baik. Siap bergabung menjalani misi Ligwina Hananto untuk menjadi kelas menengah yang kuat? Buku ini bisa menjadi guide yang tepat.


Mitch Albom : Mitch Albom ini selalu bertemu dengan orang-orang hebat, yang menjadi motivasi dirinya untuk menuliskannya kedalam sebuah buku. Banyak makna hidup yang bisa kita pelajari dari buku-bukunya. Tapi santai aja, kisah dari orang-orang yang dia tulis dalam bukunya memang memiliki cerita yang menarik untuk dibaca.



Creative Junkies : Guys, kreatifitas itu bukan merupakan bawaan sejak lahir, tapi merupakan kebiasaan diri dalam menjalankan segala sesuatu.  Mau jadi lebih kreatif? Dibuku ini Yorris Sebastian mengajak kita supaya terbiasa melakukan segala sesuatu dengan kreatif. “Think out of the box, and execute inside the box” –Yorris Sebastian-


Notes From Qatar : Muhammad Assad menulis tentang kehidupan sehari-hari yang dikaitkan dengan nilai-nilai religius sewaktu di Qatar melalui blognya, yang kemudian dibukukan. Didalam Buku ini Assad memberikan pengetahuan dan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari dari segi agama yang ditulis dengan gaya bahasa yang santai khas anak muda. Banyak “keajaiban-keajaiban” dalam hidupnya yang terjadi bukan saja karena usahanya tapi juga dengan berdoa memohon ridha Allah S.W.T. Motonya : “Positive, Persistence, Pray”.


Marmut Merah Jambu : Kalau penulis buku yang satu ini sihh gak ada matinya. Kocak abiss. Dijamin bakalan ngakak guling-guling baca bukunya. Makannya jangan baca sewaktu lo lagi di tempat keramaian *karena lo bakan disangka gila senyum-senyum sendiri*, juga jangan dibaca pas lagi dalam perjalanan *bisa-bisa lo ngakak guling-guling di jalan. Bahaya* Buku ini cocok dibaca untuk mengatasi kegalauan dan stress.
 



Wednesday, June 22, 2011

#Arts : [Pop Art] WPAP (Wheda’s Pop Art Portrait)

Pop art is kind of an art movement that developed in the mid 1950s in Britain and in the late 1950s in US. Actually at that time, pop art is used by artists as mass-produced visual commodities of popular culture with perspective of fine art such as, advertising, comic books, product labeling and logo.

But did you know? Indonesia has developed itself a modern pop art style. It is called WPAP (Wheda’s Pop Art Portrait), which is founded by Mr. Wheda Abdul Rasyid. He is also known as an illustrator of Hai Magazine in Indonesia. WPAP has it’s own style and uniqueness. The contrast colors are on of every shapes of every single portrait, way of modern pop art style.

And so to the dedication of this new way of pop art style, there is an art society called WPAP Community that coverage for those who want to learn and become the member. So far, WPAP community has been launched their online shop of merchandises, t-shirts, calendar and artworks. There are well-known, legendary and influential people of the world as their WPAP’s works. All you have to do just visit their web at wpapcommunity.com, then you can purchase your favorite one. Well… support our local awesomeness J.
(sumber : Wikipedia, wpapcommunity.blogspot)

(Rihanna : By Eva Riny)

(Bruce Lee : by Walet)

(Johnny Rotten : by Achid)

(Robert Smith : by Tony)
(pictures : from wpapcommunity.com)

Tuesday, June 21, 2011

#Urban Spot : [Sabang 16] Coffee Shop With Local Taste



(from Indiramusiawan.wordpress.com)
There are many coffee shops that offer tons of coffee taste, here in Jakarta. But there are only a few places that offer local taste of coffee and beverages. It is Sabang 16, one of the coffee shops that offer us the local taste.


I knew that this place was so hype on twitter. Peoples are recommending this place. *twitter know me so well :p* Then I am just being curious, and.. I got my first stop in here. Well, actually me and my buddy @doedetz quite not sure where exactly Sabang 16 is? But thank to technology, we found the location via foursquare. After take a quite long walking *because we had get off at the wrong bus shelter -_-“* but finally we got this place

Sabang 16 is located near the corner intersection of Jalan H. Agus Salim/Sabang. If you go via Trans Jakarta, you can stop at Bank Indonesia shelter. Then take a walk trough Jalan Kebon Sirih to Jalan H. Agus Salim. From the front you can see the standing blackboard and a window that written “Sabang 16”. When entering to the inside the space of Sabang 16 is tiny and rectangular-shaped. The interior room is welcoming us with the warm atmosphere. Lots of Pictures on the wall that have taken from the past add more vintage-look to the room. There are pictures of Our first President (Soekarno), our second President (Soeharto), and other national heroes. Then on the opposite side of wall, there is a big mirror to manipulate the space look more wide. The multifunction bar that located opposite to the door and the window, is filled with vintage accessories and the local products. And not forget to mention that there is also a big LCD TV on the wall. 


(vintage accessories,local products, and magazines)
Speaking of the coffee taste, there are coffee from local (unfortunately I can’t remember what?) that offer to us. But the most wanted one is “kopi tetes” (viatnamese), and Srikaya Toast. Kopi tetes is coffee mixed with milk (Susu kental manis) that served with coffee filter device above the glass, so that the coffee liquid is fall from the device. That is why it called kopi tetes. Meanwhile the srikaya toast has a great taste. It is two pieces of breads that added with srikaya between the pieces, mmm… major yummy...

(Srikaya Toast, and Kopi Tetes)
(Root Beer "Badak", and ice cream)
(Me @ Sabang 16)
*unfortunately I didn't bring my digital camera, so this was the best shot that I got with my smartphone* -,-"

The interesting ones, is the local products from North Sumatera that offer to us. That is root bear which is Called Badak, brand from Siantar (if am not mistake). And so with the milk (susu kental manis) is also from the local product (I can’t remember the brand). I think these local products are not mass product to distribute in other region. Yet, it is great idea to bring the local products here in Jakarta, so that we are more aware and familiar with our local products. Happy brewing :)