Slide Show

  • Everyday I'm shufflin!
  • Break the physical and mental obstacles
  • Area Eksplorasi Kreatifitas dan Inovasi Anak Muda Indonesia
  • Teknik Fotografi Yang Membuat Kita Tampak Melayang
  • Dalam Nuansa Casual, Urban dan Maskulin

Monday, July 25, 2011

#Arts : [Film Pendek] The Next Big Thing, Comes From The Small Thing

(picture from : matjankampoeng.blogspot.com)


Absennya film-film Hollywood atau lebih tepatnya Blockbuster Movies di Bioskop-bioskop Indonesia beberapa bulan ini benar-benar mengecewakan para penonton setianya. Bagaimana dengan film-film lokal? Sepertinya sih masih dibayang-bayangi tema horror atau semi ‘esek-esek’. Kalaupun ada yang mengangkat tema religius, atau tema ‘serius’, ya jadi banyak yang ikut-ikutan buat film dengan tema yang sama. Tapi, apa ada yang pernah nonton/melihat film dokumenter, film indie atau film pendek? What do you say? Sebaiknya jangan meremehkan film pendek guys, karena sangat memungkinkan film ini menjadi media bangkitnya perfilman nasional J.

Secara teknis film pendek merupakan film-film yang memiliki durasi dibawah 50 menit (Derek Hill), walaupun kebanyakan hanya berdurasi 10-15 menit atau bahkan kurang dari 10 menit. Film ini sendiri mulai populer sejak dekade 50-an di Jerman dan Perancis, yang kemudian berkembang di Negara-negara Eropa. Untuk di Indonesia sendiri, film pendek muncul di kalangan pembuat film Indonesia setelah pendidikan sinematografi muncul di IKJ. Bahkan sampai diadakan Festival Film Mini tahunan mulai tahun 1974. Tapi kemudian eksistensinya menghilang karena kekurangan dana (filmpelajar.com oleh Edi Cahyono).

Film pendek ini sebenarnya juga bisa disebut film Indie, karena dalam pembuatannya membutuhkan budget yang lebih kecil dibanding film layar lebar. Bahkan karena keterbatasannya dana, para filmmaker harus benar-benar kreatif memaksimalkan apa yang mereka punya untuk menghasilkan karya yang ciamik dan luarrr biasa. Nah sama seperti musik Indie, film Indie juga jadi media dalam kebebasan ekspresi dalam berkarya. Itulah kenapa karyanya biasanya out of the box, gak main stream.

Tapi bukan berarti film pendek malah jadi kurang efektif sebagai media dalam menyampaikan pesan atau pandangan mengenai issue tertentu. Justru film pendek harus menjadi media yang lebih berani dalam menyampaikan pandangan-pandangan baru dengan pemanfaatan ide-ide kreatif dalam keterbatasan durasi yang pendek. Bagaimana supaya bisa menemukan ide-ide kreatif? Mengutip dari tulisan Dennis Adhiswara dalam majalah NylonGuys edisi Juli-Agustus 2011: “Film pendek adalah sarana untuk membuat kesalahan. Atau mungkin tepatnya: sarana berbuat ‘nakal’. Kenakalan-kenakalan kreatif inilah yang sebenarnya jadi cikal bakal semangat eksplorasi dan inovasi dalam berkarya.” Be bad is good :p.

Sayangnya nih guys, media promosi dan eksibisi untuk film pendek masih kurang mendapat dukungan. Karena low budget, promosi dilakukan sendiri sesuai dengan kemampuan filmmaker. Youtube adalah salah satu media promosi bagi para filmmaker untuk memamerkan karyanya secara gratis. Sama halnya dengan eksibisi. Untuk menonton film pendek biasanya tidak perlu membeli tiket dengan harga tertentu, berbeda dengan film layar lebar yang perlu membayar tiket untuk menonton di Bioskop. Eksibisi film pendek biasanya dilakukan pada event tertentu seperti pada festival film. Ironis karena ternyata banyak filmmaker dari Indonesia yang menjadi jawara dalam festival film yang diadakan di luar negeri, tapi film pendek justru menjadi sesuatu yang asing didalam negerinya sendiri. Ini tandanya filmmaker lokal punya potensi untuk bersaing secara global.


The next big thing, comes from the small thing. Untuk dapat membuat sebuah film ‘besar’ yang berkualitas dan juga berkontribusi terhadap kondisi perfilman nasional, diperlukan langkah-langkah kecil yang mantap. Salah satunya, ya..lewat film pendek. Tertarik? :) 


(sumber: www.filmpelajar.com ; Nylon Guys Indonesia)




Wednesday, July 20, 2011

#Music Review : My Local Heroes

     Kali ini gue mau nge-review koleksi-koleksi CD gue. Sebenernya banyak musisi luar negeri maupun lokal dari berbagai genre musik yang gue koleksi. Mulai dari RnB, soul, Acid jazz, funk jazz, electronic, trance, sampe berbagai genre pop *termasuk K-pop?* ;p, selalu ada di playlist gue. Nah musisi lokal Indonesia juga gak kalah keren. Mereka memiliki genre musik yang asik-asik dan juga unik. Dan ini beberapa diantaranya yang jadi favorit gue dan juga menjadi my local heroes. Yang menjadi pertimbangan gue untuk tertarik membeli albumnya adalah: pertama, genre musiknya yang bikin kuping betah. Kedua, musisi/band nya emang jagoan dalam genre musik masing-masing. Ketiga, biasanya genre musiknya out of the box. (bukan yang sering tampil di acara inbox *no offense). Keempat, branding image musisi/band yang kuat. Kelima, menghargai kerja keras mereka.



Endah N Rhesa :


- Genre : Ballads, Folks
- Album : Look What We’ve Done
- Must Listen : Monkey song, wish you were here, the king
- Suggested listening : when you need to relax, before   sleep










Adhitia Sofyan : 
- Genre : Ballads
- Album : Quiet Down
- Must Listen : Adelaide sky, memilihmu, blue sky collapse
Suggested listening : when you feel “galau”, in rainy weather, before sleep








Soulvibe : 
- Genre : funk jazz
- Album : Soulvibe, Antartika
- Must Listen : Arti hadirmu, biarlah, antartika, untuk sementara
Suggested listening : when you need to relax, mood booster, accompany while reading













Andezz :
- Genre : funk jazz, lounge
- Album : departure people, only you
- Must Listen : Pergi, why don’t just, shooting stars, musik ku, only you
- Suggested listening : just relax and chillin









Maliq & D’ Essentials :
- Genre : funk jazz
- Album : The beginning of a beautiful life
- Must Listen : Terlalu, beautiful life
- Suggested listening : mood booster, Accompany in the middle of traffic













EGRV :
- Genre : Electronic
- Album : Power on/off
- Must Listen : Headliners, I know that you are lookin’ over here
- Suggested listening : While work out, get on your bike, while driving, having private party










Barry Likumahuwa :
- Genre : funk jazz
- Album : Goodspell
- Must Listen : Mati saja, scholastica, saat kau milikku, aku & hadirmu
- Suggested listening : while driving, mood booster, when need time for relaxing

Wednesday, July 6, 2011

#Book Review : On my desk

Kali ini gue akan mereview sedikit beberapa buku koleksi di meja gue. Buku-buku ini telah mengubah pandangan gue mengenai beberapa hal, menginspirasi, menghibur dan menambah pengetahuan pastinya. Mudah-mudahan juga bisa menginspirasi lo semua. Happy reading. J


The mess on my desk *btw itu harusnya lemari posisinya berdiri,
tp gue jadiin meja serbaguna. Kreatif kan? :p

Your Job Is Not Your Career : Job dan Career adalah sesuatu yang berbeda. Dimana Career itu lebih mengenai passion, purpose dan value. Hmmm…. Guys, “Think less feel more” –Rene Suhardono- *Biar gak bingung mending langsung baca bukunya.





Untuk Indonesia Yang Kuat : Kelas menengah dengan perencanaan keuangan yang tepat akan menjadikan Indonesia yang lebih kuat. Tapi untuk menjadi kelas menengah yang kuat kita harus mampu mengelola keungan dengan baik. Siap bergabung menjalani misi Ligwina Hananto untuk menjadi kelas menengah yang kuat? Buku ini bisa menjadi guide yang tepat.


Mitch Albom : Mitch Albom ini selalu bertemu dengan orang-orang hebat, yang menjadi motivasi dirinya untuk menuliskannya kedalam sebuah buku. Banyak makna hidup yang bisa kita pelajari dari buku-bukunya. Tapi santai aja, kisah dari orang-orang yang dia tulis dalam bukunya memang memiliki cerita yang menarik untuk dibaca.



Creative Junkies : Guys, kreatifitas itu bukan merupakan bawaan sejak lahir, tapi merupakan kebiasaan diri dalam menjalankan segala sesuatu.  Mau jadi lebih kreatif? Dibuku ini Yorris Sebastian mengajak kita supaya terbiasa melakukan segala sesuatu dengan kreatif. “Think out of the box, and execute inside the box” –Yorris Sebastian-


Notes From Qatar : Muhammad Assad menulis tentang kehidupan sehari-hari yang dikaitkan dengan nilai-nilai religius sewaktu di Qatar melalui blognya, yang kemudian dibukukan. Didalam Buku ini Assad memberikan pengetahuan dan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari dari segi agama yang ditulis dengan gaya bahasa yang santai khas anak muda. Banyak “keajaiban-keajaiban” dalam hidupnya yang terjadi bukan saja karena usahanya tapi juga dengan berdoa memohon ridha Allah S.W.T. Motonya : “Positive, Persistence, Pray”.


Marmut Merah Jambu : Kalau penulis buku yang satu ini sihh gak ada matinya. Kocak abiss. Dijamin bakalan ngakak guling-guling baca bukunya. Makannya jangan baca sewaktu lo lagi di tempat keramaian *karena lo bakan disangka gila senyum-senyum sendiri*, juga jangan dibaca pas lagi dalam perjalanan *bisa-bisa lo ngakak guling-guling di jalan. Bahaya* Buku ini cocok dibaca untuk mengatasi kegalauan dan stress.